Pharma and proxies illustration
  • Published:
  • Last Updated:
  • Umum
  • 7 min read

Serangan siber yang sering terjadi membuat kita menerima bahwa keamanan sistem adalah prioritas utama, terutama di bidang yang secara aktif menggunakan informasi pribadi sensitif. Kita berbicara tentang layanan kesehatan. Dahulu, informasi pasien ditulis tangan di atas kertas. Informasi tersebut dapat dicatat dalam buku besar khusus atau sekadar catatan dokter, yang berarti data sensitif berada secara fisik di dekat kita, tetapi tetap rentan terhadap kesalahan manusia atau akses ilegal. Kini, hampir seluruh informasi ini tersimpan dalam database elektronik dan server cloud. Rekam medis, resep, hasil laboratorium, serta data penting lainnya dapat diakses di berbagai fasilitas dan wilayah. 

Namun, risiko kebocoran menjadi semakin besar. Jika database ini tidak diamankan dengan benar, kredensial pribadi dan informasi sensitif dapat dicuri atau disalahgunakan.

Dalam artikel ini, kami membahas peran penting pool IP privat dalam berbagai skenario penting serta kiat praktis yang dapat dipertimbangkan perusahaan. 

Dari molekul hingga kekayaan intelektual

Paten merupakan hasil dari penelitian bertahun-tahun yang terus-menerus dan berpotensi menghasilkan pendapatan miliaran. Penemuan aspirin adalah contoh keberhasilan global. Aspirin merupakan terobosan pada akhir abad ke-19 oleh ahli kimia Bayer yang ingin membantu ayahnya melawan rematik. Merek dagang aspirin awalnya didaftarkan di Berlin. Beberapa tahun kemudian, AS  menyita aset Bayer sebagai aset musuh. Setelah kehilangan hak atas aspirin di Amerika Utara pada akhir Perang Dunia I, Bayer mendapatkan kembali hak tersebut pada 1990-an. 

Perusahaan kerap memantau pihak yang mengajukan permohonan paten baru, waktu berakhirnya paten yang berlaku, dan perbedaan hukum nasional. Untuk tujuan ini, mereka menggunakan teknologi otomatis yang menghubungi kantor paten dan database publik di seluruh dunia. 

Bagaimana pool IP privat dapat membantu perusahaan dalam kasus ini?  

Dengan menggunakan pool IP privat yang dibangun dengan residential proxies yang diperoleh secara etis, perusahaan dapat mengakses registri publik tanpa mengkhawatirkan kemungkinan hambatan keamanan. Dengan solusi proxy DataImpulse, tim memperoleh manfaat dari pengumpulan data yang konsisten dan perlindungan tingkat lanjut untuk infrastruktur internal sambil mematuhi semua standar kepatuhan.

Selain paten dan penelitian klinis, perusahaan farmasi mengelola proses produksi molekul yang sangat sensitif. Dalam praktiknya, proses ini mencakup pengadaan bahan baku dan koordinasi produksi di berbagai wilayah, dengan akses rutin ke database, platform pemasok, dan sumber intelijen pasar. Karena data ini memengaruhi produksi dan melindungi kekayaan intelektual, akses harus andal dan privat, sehingga penggunaan jaringan bersama dapat menjadi berisiko.

Bukan hanya privasi pasien yang harus dilindungi. Dokter, peneliti, dan profesional lain sering kali perlu memberikan informasi pribadi dan keuangan untuk memverifikasi identitas mereka di platform medis atau profesional. Rumah sakit, laboratorium penelitian, dan perusahaan farmasi mengandalkan sistem TI yang aman karena mereka ingin memastikan setiap data sensitif tersimpan di tempat yang aman. Itulah sebabnya keamanan siber yang kuat dengan jenis proxy yang tepat sangat diperlukan. 

Tantangan keamanan yang sering dihadapi industri farmasi

Kerahasiaan informasi farmasi menjadikannya sangat bernilai bagi berbagai pihak yang menimbulkan ancaman, termasuk penjahat siber, hacktivist, hacker, bahkan karyawan yang tidak puas. Penjahat siber mungkin berupaya mencuri kekayaan intelektual demi keuntungan finansial, dan hacker mungkin ingin mengganggu kegiatan penelitian dan pengembangan perusahaan farmasi. Pada 2024, serangan ransomware terhadap perusahaan riset farmasi Inotiv mengganggu sistem utama dan menegaskan kenyataan pahit: bahkan organisasi ilmu hayati dengan sumber daya memadai menghadapi ancaman keamanan siber nyata yang dapat menghentikan operasi dan membocorkan data sensitif. 

Ada beberapa tantangan utama keamanan siber yang saat ini dihadapi industri farmasi:

  • APTs (Advanced Persistent Threats) adalah serangan siber kompleks ketika hacker berpengalaman berupaya memperoleh akses tanpa izin dan tetap tidak terdeteksi dalam jaringan perusahaan selama waktu yang lama. APTs cukup sulit dideteksi, sehingga sering menyebabkan kebocoran data besar dan informasi farmasi berharga dicuri.
  • Ransomware. Serangan ransomware menggunakan perangkat lunak berbahaya untuk mengenkripsi data perusahaan dan meminta tebusan kepada korban agar data dirilis atau dipulihkan ke keadaan semula. Industri farmasi menjadi sasaran utama serangan yang menggunakan program pemerasan karena tingginya nilai data yang tersimpan di dalamnya serta potensi terganggunya layanan medis yang paling penting.
  • Serangan Rantai Pasok. Industri farmasi bergantung pada rantai pasok global yang kompleks. Hacker dapat menyerang pemasok, produsen kontrak, atau mitra logistik untuk mendapatkan akses ke informasi sensitif atau mengganggu rantai pasok. Hal ini dapat menyebabkan keterlambatan atau bahkan masuknya obat palsu ke pasar.
  • Orang dalam, termasuk karyawan, kontraktor, dan mitra, juga dapat menimbulkan risiko yang signifikan. Akses tanpa izin atau penyalahgunaan dapat menyebabkan kebocoran data, pencurian kekayaan intelektual, atau aktivitas berbahaya lainnya.
  • Kepatuhan terhadap persyaratan regulasi dan hukum. Industri ini tunduk pada persyaratan regulasi yang ketat. Menjaga keseimbangan antara kepatuhan regulasi dan perlindungan data sensitif membuat prosesnya semakin kompleks.

AI dan dampaknya terhadap transformasi keamanan siber

Teknologi AI awalnya diciptakan untuk mengotomatiskan proses sehari-hari dan membantu spesialis, khususnya di bidang yang intensif data seperti kedokteran. Banyak platform berbasis AI membantu organisasi farmasi mempercepat penemuan obat, mendukung keputusan klinis, dan mengelola data medis sensitif dalam jumlah besar. Selain itu, banyak kekhawatiran keamanan dapat dikurangi dengan bantuan AI. Misalnya, AI dapat digunakan sebagai alat analitis prediktif untuk mengantisipasi serangan siber di masa depan. 

Namun, integrasi menghadirkan kesulitan karena perusahaan layanan kesehatan sering mengandalkan platform lama yang tidak pernah dirancang untuk mendukung alat AI modern. Akibatnya, konektivitas menjadi lambat, mahal, atau rumit secara teknis. Untuk memastikan prosedur berbasis AI tidak membahayakan privasi pasien, perusahaan juga harus mengelola kerangka regulasi ketat seperti GDPR dan HIPAA. Masalah lainnya adalah menjamin ketersediaan dan kualitas data.  Di banyak organisasi, data ini tersebar di berbagai tempat, sedangkan AI memerlukannya dalam keadaan bersih dan terstruktur. Di luar aspek teknologi, jangan lupakan faktor manusia. Penting untuk membantu tim memahami cara mengoperasikan dan menafsirkan sistem AI dengan benar.

Meski demikian, AI memberikan manfaat nyata bagi keamanan siber farmasi di tengah berbagai hambatan ini. Algoritme canggih dapat menganalisis kumpulan data besar secara waktu nyata, mendeteksi anomali dan kerentanan, mengotomatiskan tugas seperti manajemen dan pemantauan kepatuhan, serta meningkatkan respons insiden. Kolaborasi dengan pengembang AI, pakar keamanan siber, dan mitra transformasi digital sangat penting jika Anda ingin memperoleh hasil yang baik.

Tindakan penting untuk tetap patuh:

1. Gunakan autentikasi multifaktor, kebijakan kata sandi yang kuat, dan kontrol akses berbasis peran. Langkah ini akan membantu mencegah akses ilegal ke data sensitif. Menggabungkan autentikasi multifaktor dengan akses terbatas dari pool IP privat memastikan hanya personel berwenang dan jaringan tepercaya yang dapat terhubung ke data penting.

2. Enkripsikan data rahasia dan terapkan sistem DLP (Pencegahan Kebocoran Data).

3. Perbarui semua aplikasi dan sistem secara rutin dengan perbaikan terbaru. Pembaruan keamanan akan membantu menghilangkan kerentanan yang telah diketahui dan mengurangi risiko serangan siber.

4. Edukasi karyawan tentang isu keamanan siber dan tingkatkan kesadaran akan potensi ancaman untuk meningkatkan kebersihan keamanan siber.

5. Terapkan alat deteksi dan respons insiden, termasuk pemantauan keamanan, analisis ancaman, serta rencana respons insiden atau pemulihan bencana.

6. Lakukan penilaian risiko menyeluruh terhadap pemasok, kontraktor, dan mitra rantai pasok lainnya. Hal ini akan membantu mengidentifikasi dan mengurangi potensi kerentanan serta memastikan mereka mematuhi standar yang relevan. Pool IP privat memungkinkan pemantauan platform pemasok secara aman dan anonim untuk mengidentifikasi potensi risiko siber tanpa mengekspos jaringan perusahaan.

7. Lakukan audit dan penilaian rutin atas tingkat keamanan siber saat ini untuk mengidentifikasi potensi kerentanan, kelemahan, dan area yang perlu ditingkatkan.

Selain menerapkan langkah teknis dan organisasional ini, kerja sama antara perusahaan farmasi, organisasi industri, dan lembaga pemerintah sangat diperlukan. Berbagi informasi, data ancaman operasional, dan respons terkoordinasi akan membantu industri tetap waspada terhadap ancaman siber yang semakin meningkat.

Artikel terkait

Share article: