In this Article
Industri IT merupakan salah satu industri yang paling cepat berubah, sehingga tidak mengherankan jika para profesional IT selalu berupaya mengikuti tren baru. Salah satu strategi untuk tetap selaras adalah kemampuan memodernisasi aplikasi. Itulah sebabnya semakin banyak organisasi beralih ke solusi cloud-native yang dibangun dengan microservices.
Mari cari tahu mengapa microservices begitu penting bagi developer modern.
Apa Itu Arsitektur Microservices
Mari pahami arsitektur microservices melalui contoh pengembangan perangkat lunak untuk e-commerce. Kita dapat mengidentifikasi komponen tertentu: sistem autentikasi pengguna, keranjang belanja untuk barang yang dipilih, dan sistem penagihan untuk pembayaran.
Saat mengembangkan sistem semacam itu dengan arsitektur microservices, setiap area akan ditangani oleh microservice terpisah. Misalnya, keranjang belanja akan memiliki microservice sendiri, dan developer khusus atau sebuah tim dapat mengembangkannya jika perusahaan cukup besar. Keranjang belanja akan memiliki jadwal rilis dan rencana deployment sendiri. Ini akan menjadi unit perangkat lunak mandiri yang dapat ditulis ulang sepenuhnya tanpa memengaruhi microservices lain. Selain itu, saat mengembangkan keranjang belanja, technology stack yang berbeda dapat digunakan dibandingkan microservices lain pada platform.
Jika Anda pernah menggunakan Amazon, Anda mungkin menyadari bagaimana Amazon menangani segala hal, dari pencarian produk hingga pemrosesan pesanan. Alih-alih memiliki satu sistem besar yang mengelola semuanya, Amazon menggunakan arsitektur microservices. Artinya, setiap fungsi, seperti mengelola katalog produk, memproses pesanan, menangani pembayaran, dan melacak pengiriman, berjalan sebagai service independen. Setiap service dapat diskalakan dan diperbarui tanpa mengganggu service lain. Jadi, bahkan pada waktu puncak, Amazon dapat menangani lalu lintas tinggi.
Keunggulan Microservices
Berikut beberapa alasan utama mengapa Anda perlu mencoba microservices:
- Keandalan dan Fleksibilitas: Jika satu microservice gagal atau memerlukan perubahan, dampaknya hanya pada fungsi spesifiknya dan bagian sistem lainnya tetap tidak terpengaruh.
- Modularitas dan Skalabilitas: Berbagai bagian aplikasi menangani operasi tertentu. Modul baru dapat ditambahkan atau dihapus kapan saja.
- Kemudahan Pengujian dan Fokus pada Kualitas: Fitur baru dapat diuji langsung di production. Setiap microservice bertanggung jawab atas tugas bisnis tertentu. Tim yang mengerjakan microservices berupaya mencapai hasil yang lebih baik karena mereka tahu bahwa hasilnya pada tahap ini hanya bergantung pada mereka.
- Operasi Tim yang Mandiri: Tim yang mengerjakan microservices dapat beroperasi secara mandiri dari tim lain, sehingga implementasi dan penyampaian fitur baru menjadi lebih cepat.
Kekurangan Microservices
- Peningkatan Biaya Infrastruktur: Dengan setiap microservice, biaya meningkat, termasuk biaya test suite, petunjuk deployment, infrastruktur hosting, alat monitoring, dan sebagainya.
- Lapisan Komunikasi Tambahan: Untuk mengoordinasikan pembaruan dan interface secara efektif, diperlukan lapisan komunikasi tambahan di antara tim yang mengerjakan arsitektur microservices, sehingga biaya organisasi meningkat.
- Lingkungan Pengembangan yang Kompleks: Pembagian proyek menjadi banyak microservices menciptakan tantangan lain: kerumitan mereplikasi arsitektur terdistribusi saat menyiapkan lingkungan pengembangan lokal.
Selamat Tinggal Monolit, Halo Microservices?
Monolit mungkin tampak sebagai peninggalan masa lalu, tetapi kesederhanaannya masih memiliki keunggulan. Arsitektur monolitik menggabungkan seluruh fungsionalitas aplikasi – antarmuka pengguna, logika bisnis, dan akses data – ke dalam satu codebase. Hal ini membuat pengembangan, deployment, dan pembaruan menjadi sederhana karena semua komponen beroperasi bersama. Namun, monolit menghadapi tantangan dalam fleksibilitas, skalabilitas, dan pemeliharaan.
Sebaliknya, microservices membagi aplikasi menjadi service independen. Kita memperoleh pengembangan paralel, scaling yang mudah, dan ketahanan yang lebih tinggi. Jika satu service gagal, service lainnya tetap berfungsi. Setiap service bahkan dapat menggunakan database sendiri. Namun, microservices rumit dalam pengelolaan komunikasi, jaringan, dan version control.
Arsitektur microservices adalah solusi untuk proyek yang lebih kompleks dan berskala besar, yang menjadikan fleksibilitas, pengembangan mandiri, dan ketahanan terhadap kegagalan sebagai kebutuhan utama. Namun, implementasi yang berhasil memerlukan pengelolaan komunikasi yang cermat antara tim dan service.
Arsitektur Monolitik vs Microservices
Perhatikan tabel perbandingan ini lebih saksama untuk menganalisis perbedaan utama antara arsitektur monolitik dan microservices.
| Karakteristik | Monolitik | Microservice |
|
Fleksibilitas dan Skalabilitas |
Mudah dikembangkan, dipahami, dan di-deploy, tetapi fleksibilitas menurun seiring bertambahnya fungsionalitas. | Sangat fleksibel dan skalabel, tetapi menghadirkan tantangan dalam mengelola jaringan dan deployment. |
| Manajemen Data | Sederhana karena data disimpan dalam satu database, tetapi mengubah strukturnya dapat menjadi sulit. | Pemilihan database yang fleksibel untuk setiap service meminimalkan ketergantungan pada satu database, meskipun memerlukan perencanaan menyeluruh. |
| Deployment dan Pembaruan |
Mudah di-deploy, tetapi pembaruan rumit karena memengaruhi seluruh sistem. |
Lebih mudah memperbarui service individual, tetapi mengelola versi memerlukan upaya tambahan. |
Alat Apa yang Dapat Digunakan Developer?
Developer mengintegrasikan berbagai alat ke dalam alur kerja rutin mereka. Alat-alat ini umumnya terbagi dalam dua kategori utama: alat monitoring dan alat pengujian.
- Alat monitoring berfokus pada pemantauan ‘kesehatan’ arsitektur microservices. Alat ini menganalisis data dari log aplikasi, metrik, dan komponen infrastruktur. Alat-alat ini membantu mengidentifikasi dan menangani potensi masalah dengan cepat.
Misalnya, Prometheus digunakan untuk monitoring event dan mengumpulkan metrik. Prometheus terintegrasi dengan Grafana yang memvisualisasikan data dalam dashboard interaktif. ELK Stack sangat baik untuk mengelola log guna mendeteksi dan mengatasi masalah.
- Sebaliknya, alat pengujian membantu memverifikasi bahwa setiap microservice berfungsi sesuai harapan dalam berbagai skenario. Alat-alat ini memeriksa microservices secara terisolasi maupun sebagai bagian dari sistem lengkap.
Contohnya, Postman atau Cypress digunakan untuk menguji API. Apache JMeter dapat mensimulasikan beban dan mengukur kinerja microservices saat berada di bawah tekanan. WireMock membantu mensimulasikan microservices untuk pengujian secara terisolasi sebelum integrasi penuh.
Proxy
Alat proxy juga penting untuk komunikasi yang aman antara microservices.
Proxy bertindak sebagai perantara antara klien dan service. Alat ini memiliki banyak manfaat, seperti keamanan yang lebih baik, load balancing, dan caching. Proxy mengarahkan request ke service yang sesuai, mencegah akses langsung, dan membantu menyeimbangkan lalu lintas.
Anda mungkin bertanya, “Mengapa saya tidak bisa menggunakan proxy gratis saja?” Namun, pada kenyataannya proxy gratis menyembunyikan banyak potensi ancaman keamanan. Selain itu, efektivitasnya biasanya lebih rendah daripada yang diharapkan.
Sementara proxy terutama berfokus pada pengamanan dan penyeimbangan lalu lintas, API gateway berfokus pada berbagai tugas manajemen. Kedua alat ini penting dalam lingkungan microservices.
Dengan DataImpulse proxy, developer tidak perlu lagi menghadapi koneksi yang tidak andal, kerentanan keamanan, dan masalah kinerja. Kami memiliki solusi khusus untuk Anda dan tim Anda.
Mengapa Developer Perlu Mempelajari Microservices
Pertama-tama, jika Anda ingin tetap relevan dan dicari di dunia IT, Anda wajib mulai mengembangkan keahlian dalam arsitektur ini. Dalam prosesnya, Anda berfokus pada scaling komponen individual. Dengan demikian, lonjakan lalu lintas lebih mudah ditangani, kinerja meningkat, dan downtime berkurang.
Saat ini, microservices benar-benar sangat diminati sehingga penting untuk mengetahui cara mengoperasikan dan menanganinya. Microservices juga dapat membantu Anda lebih fleksibel saat mengerjakan proyek kompleks dan membangun sistem yang tangguh. Bahkan, dalam kerja tim, Anda akan belajar berkolaborasi dengan tim DevOps.
Pembaruan akan menjadi lebih sederhana daripada sebelumnya. Anda dapat memperbarui service individual secara mandiri tanpa memengaruhi seluruh aplikasi. Anda juga akan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk pengujian dan debugging.
Menjadi developer terkadang menantang. Dengan begitu banyak bagian yang bergerak, berbagai hal dapat menjadi rumit dan menyebabkan keterlambatan serta kesalahan. Proxy menyederhanakan integrasi dan pengelolaan microservices, sehingga Anda dapat tetap fokus pada hal yang paling penting.
Kesimpulan
Singkatnya, “monolit” adalah satu entitas yang semua modul dan komponennya saling terhubung erat. Aplikasi semacam itu mudah dikembangkan dan di-deploy, tetapi sulit diskalakan. “Microservices” adalah solusi optimal untuk proyek besar yang memerlukan fleksibilitas serta kemampuan untuk memperbarui atau meningkatkan. Namun, kerumitan pengembangan, pengelolaan, dan deployment sering kali lebih besar daripada arsitektur monolitik. Dalam hal ini, proxy dapat membantu mengelola dan mengamankan komunikasi antara microservices. Setelah integrasi proxy, sistem menjadi lebih skalabel dan aman.
Ingin mengetahui lebih lanjut tentang proxy? Hubungi kami di [email protected] atau klik tombol “Coba sekarang” di pojok kanan atas.

